Tampilkan postingan dengan label Attitude. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Attitude. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2013

Dare To Change !!

Kali ini saya akan berbagi tentang apa yang saya dapatkan 2hari lalu di acara #WikuFest2013 , suatu acara yang setiap tahunnya menjadi Trending Topic Indonesia .
Terimakasih pada Ibu Wijiasih yang sudah mau share buat saya dan semuanya :)
Oke langsung saja , ini tentang bagaimana sika kita untuk berani merubah apa yang ada dalam diri kita dari biasa , baik , menjadi yang terbaik !!


  • Pertama, kita harus menanamkan dalam diri kita untuk tidak berhenti melakukan perubahan, jangan merasa puas atas sesuatu dan beranilah untuk menyimpang dari jalur amanmu ! 
  • Kedua, kita seharusnya tau bahwa peubahan itu adalah sebuah kepastian !
  • Ketiga, meskipun perubahan itu sangat perlu untuk diri kita , tetapi perubahan belum tentu menjadi baik, tapi tanpa ada perubahan dalam diri kita maka tak akan ada pembaruan dalam diri kita ! . Jadi maksudnya kita harus melakukan suatu perubahan dalam diri kita ke arah yang positif .
Namun dalam penerapannya , kadang kita takut untuk berubah , bahkan malas . Berikut Kendala Permasalan Perubahan dalam diri ada 2jenis yaitu :
  1. Kendala Permasalahan Perubahan secara Internal :
  • Tidak punya mimpi
  • Menyerah pada nasib
  • Tidak berani
  • Gemar berwacana (Omong Doang)
  • Berpuas diri akan suatu hal
  • Kurang bersyukur
  • Tidak terbuka
    2.   Kendala Permasalahan Perubahan secara Eksternal :
  • Pengaruh teman
  • Pengaruh Keluarga
  • Mental Blockage
  • Confort Zone
Dari kendala diatas seharusnya kita ingat bahwa SEMUA BERAWAL DARI NIAT !! kita perlu melakukan ini pada diri kita :
  1. Tanya pada dirimu , "Impian Anda Apa ?" lalu catat. deskripsikan , dan umumkan
  2. Tanyakan kepada keluarga tentang kelebihan dan kekurangan kita
  3. Check jadwal harian anda
  4. Tinggalkan handphone dan gadget anda
  5. Berdiskusi dengan teman
  6. Cari Ide dari social media
  7. Jalan pagi + ikuti kata hati
  8. Ikuti Komunitas usaha
  9. Katakan ANDA MAMPU !!
  10. Berdoa
Kita juga harus GROW WITH CHARACTER :
  • Bangun karakter positif
  • Tampilkan citra positif (santun, berwawasan, penampilan)
  • BE HAVE (pintar membawa diri dan mengontrol emosi)
  • Kepribadian menarik (tidak sombong, pandai)
  • Membiasakan diri untuk BE HAVE
  • High Achiever (berbuatlah yg lebih dari yang anda bisa)
Terakhir , ada tips untuk mewujudkan semua yang telah dibahas :
  • Mulailah dari yang mudah
  • Cari dan tentukan yang unik
  • Do more and more
  • Go online (pasarkan)

Continue lendo

Jumat, 04 Januari 2013

Peran Guru dan Orang Tua Dalam Membentuk Attitude Anak


Keluarga, terutama orang tua merupakan lembaga pendidikan yang pertama bagi anak. Keluarga merupakan dunia anak pertama, yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadap hidupnya. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengenal dirinya dan orang tuanya melainkan juga mengenal kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
Orang tua sebagai pendidik betul-betul merupakan peletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan berperan selama berlangsungnya kehidupan.
Ketika anak sudah melepas masa balitanya, anak tidak lagi hanya berinteraksi dengan keluarganya. Namun, anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Pada masa itu, orang tua sudah menyerahkannya kepada sekolah. Usaha pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga sosialisasi kedua setelah orang tua, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya.
Selain lingkungan keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga membawa pengaruh pada pembentukan karakter anak. Karakter baik yang sudah ditanamkan oleh orang tua dan guru akan rusak, jika anak masuk ke lingkungan masyarakat yang tidak baik dan tidak sehat. Sebaliknya, jika anak berada pada lingkungan masyarakat yang sehat, maka hal itu akan mendorong pembentukan karakter baik pada anak.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan saja tanggung jawab perorangan, tapi tanggung jawab bersama antara orang tua,guru,dan masyarakat.

Namun dari ketiga pihak tersebut yang paling menentukan dan membentuk attitude anak tersebut yaitu anak itu sendiri. Karena bagaimanapun setiap anak memiliki caranya sendiri . Bagi mereka yang tidak bisa memahami maksud atas peranan yang didapatnya dari ketiga pihak tersebut dan juga belum bisa memilah mana yang baik dan tidak dari yang dilihatnya di kehidupannya maka bisa saja dia memiliki attitude , karakter yang tidak diinginkan ataupun menyimpang .
Anak itu sendirilah nantinya yang akan membentuk attitudenya , mereka yang akan memilih baik atau tidaknya .

“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya ~
Continue lendo

Jumat, 03 Agustus 2012

Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter


Membangun Karakter Anak
Membangun karakter berarti mendidik. Untuk berpikir tentang pendidikan dapat kita mudahkan dengan membuat analogi sebagaimana seorang petani yang hendak bertanam di ladang. Anak yang akan dididik dapat diibaratkan sebagai tanah, isi pendidiklah sebagai bibit atau benih yang hendak ditaburkan, sedangkan pendidik diibaratkan sebagai petani. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus, seorang petani harus jeli menentukan jenis dan kondisi lahan, kemudian menentukan jenis bibit yang tepat, serta cara yang tepat, setelah mempertimbangkan saat yang tepat pula untuk menaburkan bibit. Setelah selesai menabur, petani tidak boleh diam, tetapi harus memelihara, danmerawatnya jangan sampai kena hama pengganggu (Suharsimi Arikunto 2004 : 1).
Membangun karakter anak, yang tidak lain adalah mendidik kejiwaan anak, tidak semudah dan sesederhana menanam bibit. Anak adalah aset keluarga, yang sekaligus aset bagsa. Membesarkan fisik anak, masih dapat dikatakan jauh lebih mudah dengan mendidik ajiwa karena pertumbuhanya dapat dengan langsung diamati, sedangkan perkembangan jiwa hanya diamati melalui pantulannya.
Menurut Oppenheim (dalam Suharsimi Arikunto, 2004 : 2) karakter atau watak seseorang dapat diamati dalam dua hal, yaitu sikap (attitude) dan perilaku (behavior). Jadi sikap sesorang termasuk anak-anak, tidak dapat diketahui apabila tidak ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor anatara lain cara menyampaikan, waktu terjadinya, pemberian rangsangan dan cara memberikan rangsangan. Dengan demikian maka pemebntukan sikap yang selanjutnya merupakan pembetuk karekter atau watak anak, juga sangat tergantung dari rangsangan pendidikan yang diberikan oleh pendidik.
Banyaknya anak yang terlibat dalam tindak kenakalan nak baik berupa tindak kekerasan, penipuan, pemerkosaan/pelecehan seksual, pencurian, perampokan hingga pembunuhan serta tindakan/ perilaku yang negatif lainnya seperti mabuk-mabukan, merokok atau menyalahgunakan narkoba, merupakan salah satu bentuk gagalnya pendidikan terhadap anak.
Era globalisasi memang telah mengubah segalanya. Beratnya persaingan hidup telah menyebabkan orang lupa memperhatikan kebutuhn anak karena sibuk mencari nafkah. Sementara perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan budaya luar baik atau buruk mengalir bagitu derasnya. Dampaknya bila tidak ada pengawasan dan bimbingan yang cukup buruk dari luar. Oleh karenanya, sejak dini pada anak perlu ditanamkan nailai-nilai moral sebagai pengatur sikap dan perilaku individu dalam melakukan interaksi sosial di lingkungan keluarga, masyarakat maupun bangsa (Gunarwan, 2005 : 10).
Terdapat tiga teori perkembangan yang diyakini menentukan hasil jadi seorang anak. Pertama, teori tabula rasa, yakni teori yang menyatakan bahwa hasil jadi seorang anak sangat ditentukan seperti apa dia dididik. Teori ini mengibaratkan anak sebagai kertas putih yang kosong, tergantung siapa yang menulis dan melukisnya. Menulis dengan rapi atau dengan mencoret-coret bahkan diremas hingga kumal. Semua tergantung yang memegang kandali atas kertas putih tersebut.
Kedua, teori genotype, yang menyatakan bahwa hasil akhir seorang anak sangat ditentukan oleh gen (sifat, karakter, biologis) orang tuanya. Pepatah sering mendukung teori ini dengan perumpamanaan : air hujan mengalir tak jauh dari atapnya. Sifat kareakter, hingga yang lebih ekstrim lagi nasib anak-anak dianggap tidak akan jauh dari situasi orang tuanya. Penganut paham ini sangat kenatar jika sampai pada keputusan menentukan jodoh anak-anaknya. Orang tuanya cocok, maka hubungan anaknya boleh berlanjut, namun jika tidak cocok maka biasanya orang tua tidak akan memberi restu hubungan anaknya.
Ketiga, teori gabungan yang menggabungkan 2 karakter di atas di tambah denagn faktor mileu (lingkungan ). Teori ini banyak dipakai oleh para psikolog maupun pengembang pendidikan. Teori ini meyakini bahwa hasil akhir seorang anak ditentukan oleh tiga hal: faktor orang tua, faktor pendidkan dan faktor lingkungan. Banyak faktor lingkungan yakni dengan siapa dia bergaul, bergaul, pengaruh orang-orang dekat, paling diyakini sangat efektif mempengaruhi perkembangan anak
Membangun karakter anak dengan demikian dibutuhkan upaya serius dari berbagai pihak terutama keluarga untuk mengkondidikan ketiga faktor di atas agar kondusif untuk tumbuh kembang anak. Pendidikan karakter pada anak harus siarahkan agar anak memiliki jiwa mandiri, bertanggung jawab dan mengenal sejak dini untuk dapat membedakan hal yang baik dan buruk, benar-salah, hak-batil, angkara murka-bijaksana, perilaku hewani dan manusiawi (Witono, 2005:1)
Peran Orang Tua
Anak adalah individu yang unik. Banyak yang menagatkan bahwa anak adalah miniatur dari orang dewasa. Padahal mereka betulbetul unik. Mereka belum banyak memiliki sejarah masa lal. Pengalaman mereka sangat terbatas.
Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain :
1. Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2. Memelihara kesehatan anak.
3. Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.
4. Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5. Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6. Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak.
Atas dasar itu orang tua yang bijaksana ankan mengajak anak sejak dini untuk berinteraksi denagn lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan niali-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain.
Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contph keteladanan dan perilaku bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh. Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara. Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka rusaklah negara”.
Sementara itu sang bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menajdi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba membolehkan (permissive).
Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya diri dalam melakukan pengasuhan tetapi meraka sepenuhnya mengahrgai keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya. Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah memerinci tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia memberi hukuman ringan tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka lakukan dan minta pendapat anak.
Anak dari orang tua yang demikian akan merasa tenang dan nyaman. Mereka akan menajdi paham kalau mereka disayangi tetapi sekaligus mengerti terhadap apa yang diharapkan dari orang tua. Jadi anak sejak pra sekolah akan menunjukkan sikap lebih mandiri, mampu mengontrol dirinya, biasa bersikap tegas dan suka eksplorasi. Kondisi yeng demikian itu tidak akan didapatkan anak bila orang tuanya menerapkan pola asuh otoriter atau permisif. Karena anak-anak di bawah asuhan otoriter akan menjadi pendiam, Penakut dan tidak percaya pada diri mereka sendiri. Sementara anak-anak yang diasuh dengan model permisif akan menajdi anak yang tidak mengenal aturan dan norma serta idak memiliki rasa tanggung jawab.
Dengan berkaca pada kondisi saat ini, sudah saatnya orang tua sekarang mengambil peran lebih untuk mengembangkan karakter dan memberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal agar anak menjadi manusia berkualitas.
Kesimpulan
Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak, jadi dalam lingkungan keluargalah watak dan kepribadian anak akan dibentuk yang sekaligus akan mempengaruhi perkembangannya di masa depan.
Di mata anak, orang tu (ayah ibu) adalah figur atau contoh yang akan selalu ditiru oleh anak-anaknya. Oleh sebab itu, ayah ibu harus mampu memberi contoh yang baik pada anak-anaknya, memberi pengasuhan yang benar serta mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dalam batasan yang wajar.
Dengan memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Dan yang tidak kalah pentingnya, anak akan tumbuh menjadi anak yang berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi penerus bangsa di masa depan
http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25
Continue lendo

Selasa, 31 Juli 2012

Attitude Again


Jika ABCDEFGHIJKLMNO PQRSTUVWXYZ disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai : 11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 1 + 19 = 99%

Kata H-A-R-D-W-O-R-K bernilai :  8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

Kata K-N-O-W-L-E-D-G –E bernilai : 11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

Kata A-T-T-I-T-U-D-E bernilai : 1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.


Dan apabila ATTITUDE kita tambahkan dengan , LOVE OF GOD yang bernilai : 12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101% atau, SAYANG ALLAH 19 + 1 + 25 + 1 + 14 + 7 + 1 + 12 + 12 + 1 + 8 = 101%

Attitude Adalah segalanya, orang tidak akan ingat apa warna kemeja yang Anda kenakan atau mengingat dengan tepat apa yang Anda katakan, tapi mereka akan mengingat kepribadian (attitude) anda. Berkepribadian positif adalah salah satu cara membuat kesan yang baik kepada orang lain yang berdampak  jangka panjang.

 Attitude adalah segalanya. Entah attitude anda baik ataupun buruk, tapi itulah hal utama yang akan orang ingat tentang Anda. Saat Anda berinteraksi dengan pelanggan,mungkin Anda takkan mendapatkan kesempatan kedua. Sekalipun Anda bukan orang yang memiliki kepribadian positif Anda dapat mempelajari bagaimana memiliki kepribadian yanglebih positif. Ini diawali dari bagaimana Anda balajar menghargai. Hargailah hal-hal baik dalam diri Anda dan orang lain. Bagaimana menghargai bisa dipelajari dengan cara merubah pola pikir negatif Anda menjadi pola pikir yang positif. Pikiran-pikiran tentang diri Anda sendiri:

Rubahlah “saya tak pernah bisa melakukannya dengan benar” menjadi  “lain kali pasti saya bisa melakukannya dengan benar”.  

Hal ini juga Anda lakukan terhadap pola pikir Anda tentang pelanggan:

“Duuuh.., ini emak -emak ye. Orang kaya gini mah ga bakalan ngerti tentang TV. Bakalan ribet ngejelasinnya niy”.

Rubah pola pikir Anda menjadi “saya akan lakukan apa yang bisa saya, lakukan untuk membantu ibu ini. Dia bilang dia tidak ga tau banyak tentang TV, jadi saya lakukan yang terbaik untuk menjelaskan mengenai TV kepadanya”.

Merubah pola pikir Andaakan membantu Anda untuk menghargai diri Anda sendiri dan orang lain. Saat Anda sada rbahwa Anda kembali ke pola pikir lama, berusaha keras untuk merubah proses pola pikir Anda.

Percaya pada diri sendiri, saat Anda buang pola pikir negatif Anda, Anda akan mulai percaya pada diri sendiri. Mengatakan hal-hal seperti,“saya tak pernah bisa melakukannya dengan benar” hanya akan men-set Anda untuk gagal. Merubah pola pikir Anda menjadi

“lain kali pasti saya bisa melakukannya dengan benar” akan men-set Anda untuk berhasil. Saat Anda yakin akan diri Anda sendiri, maka saat itu pula Anda akan mulai merasa lebih percaya diri. Anda mulai memperlihatkan image yang kuat kepada orang lain. Kepada para palanggan Anda,tunjukkan image bahwa Anda adalah orang yang percaya diri, yakin dengan perusahaan Anda,dan yakin dengan produk Anda. Percayalah bahwa Anda mampu membuat perbedaan.

Saat Anda percaya pada diri sendiri , dengan sendirinya Anda akan percaya bahwa Anda mampu membuatperbedaan buat orang lain. Saat Anda yakin Anda bisa membuat perbedaan, Anda akan menemukan cara untuk mewujudkannya. Dalam dunia kerja, carilah cara untuk membuat perbedaan dengan; senang membantu, memberikan minat yang dalam dan peduli kepada para pelanggan Anda,berpikir terbuka; jangan menjadi orang yang stereotype.

Saat seorang karyawan berpikir tentang seorang wanita tua yang tidak mengerti tentang apa yang ia inginkan dan menjadi sulit ditangani,karyawan tersebut menerima stereotype negatif tentang orang tua sebelum ia berbicara kepadanya. Orang tua tersebut bisa jadi lebih pintar dan berpengalaman dari karyawan tersebut.

Masih ingat “kesan pertama”?

stereotypebisa melencengkan kesan pertama. Apakah Anda inginorang lain men-stereotype Anda? Bila Anda rubah pola pikir Anda dan berhenti berpikir stereotype terhadap orang lain, maka Anda akan merubah cara Anda menampilkan diri Anda.

Continue lendo

Sabtu, 21 Juli 2012

Perlunya Attitude

Attitude , yea sesuatu tindakan yang memiliki nilai-nilai yg berlaku dalam masyarakat , bisa disebut juga norma kesusilaan .
Attitude sangatlah penting dalam kehidupan , karena tanpa adanya Attitude hubungan satu orang dengan yang lain tidak akan berjalan secara harmonis , bisa dibilang tidak ada namanya saling menghargai diantara sesama .
Attitude juga yang akan membentuk siapa diri orang tersebut , dan bagaimana orang lain menilai dirinya .
Attitude adalah suatu hal yang kecil tetapi dapat menciptakan perbedaan yang besar .
Karena apabila attitude kita dimata orang sangatlah baik , maka tentunya kita akan disegani banyak orang , begitu sebaliknya .
Kebanyakan orang menilai kita buruk bila kita tak punya Attitude yang baik .
Maka dari itu , mengapa orang tua kita selalu mengajarkan pada kita agar kita bisa menjaga perilaku / attitude kita dimana saja kita berada , agar nantinya bila kita membutuhkan pertolongan tiba-tiba , orang menilainya tidak salah .

Menurut penelitian Attitude juga berperan penting dalam penetuan kebahagiaan dan kesuksesan seseorang .
Tetapi Attitude akan berperan negative apabila kita tidak bisa menerima atau menyaring sesuatu yg tidak baik dimasyarakat , ini biasanya terjadi pada anak remaja zaman sekarang , biasalah namanya juga remaja , masa dimana banyak permasalahan dan gejolak yg timbul bertubi-tubi dalam dirinya .
Dimana dalam proses itu mereka mudah terpengaruh daerah lingkungan sekitar dan nyatanya remaja sekarang memiliki Attitude yg menurut pandangan masyarakat sudah mulai menurun .

Kita tidak mau kan bila dianggap Attitude kita kurang lah , dianggap belum pernah diajari Attitude lah
Maka dari itu , kita mulai dari diri kita sendiri buat berubah , kita jaga Attitude kita , karena bila kita ingin dihormati orang lain maka hormati diri kita dulu :)

Dan ingat dengan Attitude kita dapat menjalin hubungan yang harmonis dan tatanan hidup yang baik , sehingga satu sama lain dapat saling menghormati , menolong dan hidup bersama walau dalam perbedaan :)


Continue lendo
 

Deryan E.M. Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates